Angkat Potensi Laut Indonesia, Letkol Laut (P) Salim jadi Host Acara Ekspedisi Indonesia Raya di TV One
TV One selaku TV swasta nasional bekerja sama dengan Mabes TNI membuat program Ekspedisi Indonesia Raya yang mengangkat kekayaan laut Indonesia.
Letkol Laut (P) Salim sebagai host dalam acara Ekspedisi Indonesia Raya di TV One
MNOL, Jakarta – TV One selaku TV swasta nasional bekerja sama dengan Mabes TNI membuat program Ekspedisi Indonesia Raya yang mengangkat kekayaan laut Indonesia. Letkol Laut (P) Salim yang merupakan penulis buku Ketahanan Pangan dari Laut: Perspective Sea Power, My Fish My Life ditunjuk sebagai host dalam episode dengan tema ‘Ke Mana Ikanku’ di Bitung dan Tahuna. Dalam episode tersebut Pamen TNI AL yang sehari-hari berdinas di Sops Mabes TNI ini mengulas soal ironi kehidupan bahari di Bitung dan Tahuna, dua wilayah penghasil ikan di Sulawesi Utara. Di episode kali ini, Salim memulai perjalanan dari kota Bitung. Di kota ini, ia akan melihat bagaimana industri ikan bergerak dari mulai cara menangkap, menjual dan mengolah ikan, khususnya ikan tuna, tongkol, dan cakalang. Perjalanan pertama melihat pabrik pengemasan ikan di kota Bitung. Di tempat ini, Salim akan mempelajari bagaimana pabrik pengemasan ini bekerja. Mulai mendapat ikan dari nelayan, mengemas ikan di dalam pabrik hingga mengirim kemasan ikan tersebut ke luar negeri. “Ada dua cara ikan-ikan ini pergi ke luar negeri alias di ekspor. Pertama dalam bentuk kemasan dan kedua dalam bentuk ikan segar alias fresh fish. Kualitas ikan yang akan diekspor tentunya harus nomor satu alias premium,” ujar Salim melalui pesan singkatnya kepada maritimnews, (9/3/17). Subjek utama dalam dalam program ini adalah ikan. Program ini dalam bentuk film dokumenter yang menayangkan proses pengolahan ikan mulai dari laut ketika ditangkap nelayan, hingga ke pantai. Selanjutnya, ikan-ikan ini akan terbagi dua arah, satu menuju pabrik pengemasan ikan dan satu lagi menuju ke tempat pelelangan ikan (TPI) dan pasar tradisional. “Di pabrik, ikan-ikan ini akan dikemas sedemikian rupa dan diekspor ke luar negeri. Sedangkan di tempat pelelangan ikan, ikan ini akan menuju pasar tradisional dan berakhir di meja makan,” ungkapnya. Lulusan AAL tahun 1995 ini mengaku sangat nerveous ketika diminta menjadi host dalam acara ini. Namun demi mengangkat potensi maritim Indonesia hal itu dilakoninya. Biasa berkutat dengan kapal perang dan buku-buku soal strategi maritim serta menjadi pembicara seminar, tetapi kali ini ia harus ke lokasi nelayan seraya membawakan acara layaknya host profesional. “Di tempat ini, ikan adalah segalanya. Di sini kita bisa menyaksikan potret kehidupan masyarakat bahari Bitung, Tahuna dan  Sulawesi Utara pada umumnya,” kata Salim. Bitung adalah salah satu kota di Provinsi Sulawesi utara yang terkenal sebagai penghasil ikan dan sentra industri ikan. Dari ikan tuna, tongkol dan cakalang serta beberapa koperasi, pabrik pengemasan ikan, tempat pelelangan ikan banyak dijumpai di kota ini. “Ikan sebagai ruh masyarakat Sulawesi sedikit demi sedikit mulai tergusur. Keluarga nelayan kesulitan mengakses ikan sebagai hidangan utama. Ikan sebagai sumber protein tidak lagi dianggap sebagai investasi penting untuk generasi mendatang. Semuanya selalu diukur dengan rupiah,” imbuhnya. Berikutnya, host akan melihat dan memotret koperasi yang tumbuh pesat di kota Bitung. Di sini, koperasi bisa dianggap mewakili cara masyarakat kota Bitung dalam mengolah hasil lautnya. Salah satunya adalah Koperasi Cakalang Fufu. Biasanya koperasi ini digerakan oleh masyarakat secara tradisional. Berkembangnya koperasi di kota Bitung menjadi contoh betapa bergeliatnya industri perikanan di sini “Kejujuran dan rasa persaudaraan menjadi modal utama untuk menggerakan koperasi. Koperasi dianggap sebagai jalan keluar untuk menghadapi sistem industri perikanan yang didominasi oleh para juragan dan pemilik modal,” bebernya.
Mengunjungi pabrik pengolahan ikan di Bitung
Pada kenyataannya, koperasi di kota Bitung banyak memberi peran kepada kaum perempuan. Karena perempuan dianggap lebih paham dan mengerti soal jual beli ikan dan detail soal keuangan. Peran perempuan dalam masyarakat Bahari tidak bisa dianggap sebelah mata. Perjalanan dilanjutkan ke Pulau Tahuna. Di pulau ini, host akan ikut dengan nelayan lokal mencari ikan di tengah laut. Perjalanan dari kota Bitung ke Tahuna memakan waktu satu hari dengan menggunakan kapal cepat. “Kapal ini akan mampir di beberapa pulau untuk mengambil hasil laut dari nelayan lokal. Seperti pulau Tulandang, pulau Siau dan terakhir pulau Sangihe dan Tahuna,” terangnya. Di Tahuna, host bertemu nelayan tuna yang akrab disapa Om Baren. Salim akan ikut Om Baren melaut untuk mencari tuna dan cakalang. Dari om Baren, Salim mendapatkan permasalahan utuh tentang kehidupan masyarakat bahari di Pulau Tahuna. “Mulai dari kebutuhan BBM, kondisi cuaca hingga cara menangkap tuna dan cakalang serta bagaimana mereka mengolah dan menjual hasil lautnya akan kita ceritakan di segmen ini,” jelas Pamen TNI AL yang sudah mengunjungi beberapa negara ini. Pada akhirnya, host dapat menyimpulkan pola masyarakat bahari yang selama ini identik dengan kearifan lokal, mau tidak mau harus beradaptasi dengan kemajuan zaman. "Kehadiran Negara tidak hanya diukur dengan penertiban dan memproduksi undang-undang semata. Posisi masyarakat bahari harus sejajar dengan industri bahari itu sendiri,” analisanya. Kemudian ikan adalah kata kunci kehidupan masyarakat bahari. Perjalanan ikan akan membawa kita untuk melihat permasalahan yang dihadapi manusia dan lingkungannya. Tuntutan kebutuhan dan kepentingan industri, menjadi hulu dan hilir persoalan yang dihadapi oleh masyarakat pesisir. “Muaranya adalah kesejahteraan nelayan. Perilaku bahari dari masyarakat pesisir ini pada akhirnya adalah kejayaan Indonesia sebagai bangsa bahari yang besar,” pungkasnya. Rencananya acara ini akan ditayangkan oleh TV One pada bulan Mei 2017 mendatang. Tentunya acara ini akan dinantikan oleh para pecinta maritim Indonesia. Di sisi lain, acara ini juga unik mengingat host-nya adalah Pamen TNI aktif. Hal ini membuktikan bahwa TNI dapat berperan di segala lini dan menunjukan kemanunggalan TNI bersama rakyat sebagai amanat Panglima Besar Jenderal Soedirman.   (Adit/MN)  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *