Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan: Kapal Perang adalah Istri Kedua Seorang Komandan Kapal
komandan kapal harus menjadi interface antara manusia dan mesin untuk membentuk sistem yang andal.
Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan mengucapkan salam perpisahan kepada istrinya sebelum berangkat tugas
MNOL, Jakarta – Hubungan antara Komandan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dengan kapal yang diawakinya ibarat hubungan suami-istri. Sehingga dengan kata lain, kapal perang merupakan istri kedua bagi setiap Komandan KRI. Maksud dari perumpamaan itu ialah supaya seorang komandan kapal harus benar-benar menjiwai dan memahami seluk beluk kapal yang diawakinya. Itulah seni kepemimpinan di kapal perang menurut Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan. Pria asal Kuningan yang kini menjadi Komandan KRI John Lie-358 itu memiliki segudang pengalaman dalam memimpin beberapa kapal perang. Dirinya yang merupakan lulusan AAL tahun 1993 itu pernah menjabat sebagai Dansatgas Maritim TNI Konga XXVIII/H-UNIFIL saat menjadi Komandan KRI Bung Tomo-357. Kapal frigat buatan Inggris tersebut mendapat perintah bertugas untuk mengamankan Area of Maritime Operation (AMO) di perairan Lebanon tahun 2015 -2016. Para awak KRI Bung Tomo-357 yang meninggalkan keluarga dan tanah airnya untuk misi perdamaian selama setahun menjadi catatan tersendiri baginya. Kepada maritimnews, Yayan biasa akrab disapa mengungkapkan bahwa di situlah profesionalisme seorang prajurit diuji. “Kapal  perang  adalah  istri  kedua bagi seorang  komandan kapal selain  yang  ada  di rumah. Dia harus  diperlakukan dengan  baik, diperhatikan  segala  kebutuhannya, dirawat dan dipelihara serta  diperlakukan dengan  santun sehingga akan memberikan pelayanan  terbaik  kapan pun dan di mana pun,” ujar Yayan. Suami dari Ny. Peni Novita Damarwati ini mengaku bahwa komandan  kapal  harus  menjadi  interface antara  manusia  dan  mesin untuk membentuk sistem yang andal. Menurutnya, kebutuhan kedua entity tersebut berbeda, untuk mempertahankan kondisi teknis peralatan memerlukan perawatan  secara  terencana  dengan  baik  melalui  Planning  Maintenance  System (PMS) agar kondisi teknis dapat dipertahankan. “Ibarat  tubuh  manusia  yang  tersusun  dari  sejumlah  organ,  sebuah  kapal perang pun demikian  terdiri  dari  berbagai  sistem  yang  memiliki  fungsi  sama seperti  organ‐organ  panca  indera manusia,” bebernya. Peralatan deteksi seperti Radar, sonar, echo sounder, ESM, ECM berfungsi untuk melihat, mengukur, merasakan dan mendeteksi seluruh kontak yang ada di sekitar  kapal  maupun  yang  jauh  dari kapal. Fungsinya seperti telinga, mata dan mulut pada manusia. Sementara itu, lanjutnya, sistem  pendorongan kapal bagaikan sepasang kaki yang lincah yang  digunakan  untuk  berjalan  dan berlari. Kemudian sejumlah  persenjataan  yang ada dari mulai  meriam  kaliber kecil, menengah  dan  meriam  utama, peluru kendali untuk permukaan dan udara serta torpedo  untuk  anti  kapal  selam diibaratkan  kaki  untuk  menendang  dan tangan  untuk  melumpuhkan  musuh. Namun terlepas dari itu semua, ruhnya  kapal  perang  tetap ada pada prajurit yang mengawakinya. Sedangkan otaknya kapal perang itu sendiri adalah kemampuan komandannya. “Dan yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana memotivasi setiap prajurit agar tercipta kesadaran tanggung jawab yang tinggi terhadap kebersihan kapal. Kesiapan teknis dan rasa memiliki terhadap berbagai inventaris negara yang ada di kapal harus tetap dalam kondisi siap, bersih, tertata rapih dan  tertib,” tandasnya. Untuk  memiliki  prajurit  yang tangguh  diperlukan  seni  dalam  pembinaan  dan  perawatan  personel  secara komprehensif.  Pembinaan  dan  perawatan  personel  merupakan  faktor  yang harus  menjadi  perhatian  karena  sehebat  dan  se-modern  apapun  kapal  jika diawaki  oleh  personel  yang  memiliki  kualitas  pengabdian  dan  profesionalisme rendah  hasilnya  akan  rendah. ‘Di sini peran Jalasenastri  juga  sangat  vital  dalam memberikan dukungan moril kepada prajurit terutama saat jauh dari keluarganya,” imbuhnya.
Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan tengah mengawaki helikopter
Masih kata Yayan, Komandan kapal harus bisa mengintegrasikan seluruh komponen yang ada di kapal.  Pada  saat  aksi  di lapangan  baik  pada  saat  manuver  maupun menghadapi peperangan, seluruh indera kapal harus dapat dimanfaatkan secara efektif agar daya tempur kapal dapat  secara  maksimal. “Komandan kapal bukanlah seorang pasukan khusus atau penerbang tempur yang dalam melakukan misinya  secara  mandiri  dimana  keputusan  menyerang,  menghindar, berlari, menarik  pelatuk  senjata  dan  lain  sebagainya dilakukan  dan  diputuskan  secara langsung  tanpa  melibatkan  orang  lain,” pungkasnya. Ibarat suatu rumah tangga, seluruhnya adalah satu kesatuan di mana seorang suami yang bertindak sebagai kepala keluarga sekaligus pemimpin dalam keluarga tersebut. Kenangan Yayan dengan para awak KRI Bung Tomo-357 di Lebanon dan seni kepemimpinan dalam kapal perang itu ditulisnya dalam sebuah buku berjudul ‘Kiprah Satgas Maritim TNI Kontingen Garuda XXVIII/H-UNIFIL: Di Antara Konflik Lebanon’ yang diluncurkan tahun 2016.  (Adit/MN)        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *