Peta Anggaran Militer Negara-negara Laut Tiongkok Selatan, Tiongkok Masih yang Terbesar
LCS
Gambaran peta potensi konflik antar negara di Laut Tiongkok Selatan.
MNOL – Jakarta, Semakin memanasnya konflik di Laut Tiongkok Selatan, diprediksi  akan memicu perlombaan kekuatan militer di negara–negara yang terletak di kawasan ini. Seperti diberitakan sebelumnya (baca : Konflik Laut Tiongkok Selatan Diprediksi akan Picu “Perlombaan Senjata” di Kawasan Asia Pasifik). Memanasnya konflik di sekitar kawasan Laut Tiongkok Selatan diprediksi akan mendorong kenaikan anggaran pertahanan di kawasan Asia Pasifik selama lima tahun ke depan. Dari kajian yang dilakukan oleh Stockholm International Peace Research Intitute (SIPRI), rata – rata negara yang terlibat atau berbatasan dengan Laut Tiongkok Selatan meningkatkan anggaran belanja militer mereka dalam lima tahun terkakhir. Hal ini bisa jadi merupakan indikasi adanya pengaruh dari situasi Laut Tiongkok Selatan yang semakin memanas dalam rentang waktu lima tahun terakhir.
anggaran belanja militer
Resume anggaran belanja militer negara - negara Laut Cina Selatan dalam juta dollar Amerika. (Sumber : sipri.org)
Pada tahun 2015 yang lalu, anggaran belanja militer tahunan terbesar di kawasan ini, masih di kuasai oleh Republik Rakyat Tiongkok yang pada tahun 2015 lalu menganggarkan dana lebih dari 214 Miliar Dollar Amerika, yang berarti meningkat sebesar 7.05% dibanding anggaran belanja militer mereka di tahun 2014. Besarnya anggaran belanja Tiongkok tersebut mungkin sejalan dengan banyaknya kepentingan militer mereka yang setiap tahun semakin aktif, serta banyaknya konflik di berbagai kawasan dengan berbagai  negara, salah satunya tentu di kawasan Laun Tiongkok Selatan ini. Anggaran belanja Tiongkok tersebut jauh meninggalkan Taiwan yang berada di posisi ke dua dengan anggaran belanja tahunan pada tahun 2015 berkisar 9,8 Miliar Dollar Amerika Serikat, serta Singapura pada posisi ke tiga dengan anggaran sekitar 9,4 Miliar Dollar Amerika Serikat. Indonesia sendiri berada pada posisi ke empat, dengan anggaran belanja sekitar 7,6 Miliar Dollar Amerika Serikat. Sedangkan untuk anggaran belanja militer terkecil di kawasan ini pada tahun 2015 ada pada Brunei Darussalam sebesar 424 juta Dollar Amerika Serikat,karena pada tahun 2015 ini data anggaran belanja militer Kamboja tidak ada.
LCS
Resume persentase kenaikan anggaran belanja militer per tahun negara - negara di Laut Tiongkok Selatan. (sumber : sipri.org)
Sedangkan secara presentasi kenaikan, anggaran belanja militer Filipina pada tahun 2015 yang lalu meningkat drastis sebesar 19,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini mungkin dipicu oleh semakin memanasnya konflik antara Filipina dan Tiongkok terkait perebutan hak atas Kepualauan Spratly. Yang menarik adalah anggaran belanja militer Taiwan yang menurun di tahun 2015 yang lalu. Hal ini mungkin disebabkan konsentrasi Tiongkok yang saat ini tengah fokus ke permasalahan dengan Filipina, Malaysia, serta Vietnam terkait klaim atas Kepulauan Spratly sehingga permasalahan klasik dengan Taiwan sedikit mereda. Indonesia sendiri sempat menurunkan anggaran belanja militernya di tahun 2014 sebesar 21%. Namun, di tahun 2015 terjadi kenaikan anggaran belanja militer sebesar 9,31% yang kemungkinan juga diakibatkan permasalahan di Laut Tiongkok Selatan terkait Kepulauan Natuna. Secara keseluruhan, hampir seluruh negara yang terletak di Laut Tiongkok Selatan meningkatkan anggaran belanja militer mereka. Hal ini mungkin sejalan dengan prediksi dari IHS yang menyatakan bahwa di tahun 2020 nanti anggaran belanja militer negara–negara di kawasan ini akan meningkat tajam, dan ini terlihat dari tren lima tahun terakhir (sejak 2011), dimana rata–rata anggaran tiap negara terus meningkat. (APS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *