Kolonel Laut (P) Yayan SofiyanMaritimnews, Lebanon – Kiprah KRI Bung Tomo-357 yang dikomandani Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan dalam Satgas Maritim TNI Kontingen Garuda XXVIII-H/UNIFIL TA. 2015 di Lebanon telah mendongkrak eksistensi dan martabat Indonesia di dunia internasional. Pasalnya, beberapa prestasi emas terukir dari kapal perang berjenis Multi Role Light Frigate (MRLF) kebanggan Indonesia itu.
Menurut Yayan, diplomasi Angkatan Laut (Naval Diplomacy) yang dilakukan Satgas Maritim TNI Konga XXVIII-H/UNIFIL telah membuka mata dunia kepada Indonesia. Selain itu juga untuk meningkatkan kepercayaan diri seluruh personel TNI AL di manapun berada dalam mengemban tugas negara.
“Di sinilah pentingnya Naval atau Military Diplomacy. Keberadaan kita berdampak pada cara pandang bangsa lain akan kemampuan militer Indonesia sehingga menempatkan tingginya martabat bangsa kita,” kata Yayan saat menghadiri acara Contico and Commanders Conference, Senin (14/03/2016).
Selanjutnya, lulusan AAL tahun 1993 ini menyampaikan agar semangat ini juga diikuti oleh seluruh personel TNI pada umumnya dan TNI AL pada khususnya agar mengharumkan nama bangsa di pentas internasional.
“Jangan hanya ‘Jago Kandang’, tatap matanya buat mereka yakin akan kemampuan kita bermain dengan elegan dalam arena. Sehingga mereka tidak sadar berdiri dan memberikan Standing Applause atas kekagumannya serta berharap kita menjadi mitra yang konstruktif,” tandasnya.
Kegiatan yang digelar di CR-2 UNIFIL HQ Naqoura Lebanon itu dihadiri Force CommanderUNIFIL, Major General Luciano Portolano, MTF (Maritime Task Force)Commander RADM. Claudio Henrique Mello De Almeida, Chief of Staff UNIFIL Brigadir General Mitchel Grintchenko beserta seluruh Komandan Satgas dibawah UNIFIL (United Nations Interim Forces in Lebanon).
Force Commander UNIFIL Major General Luciano Portolano, menyatakan bahwa kontingen yang ada di UNIFIL harus fleksible, adaptable dan pro aktif. Selain itu, ia juga mengintruksikan kepada para Komandan agar mengontrol anak buahnya. Antara lain dengan mencegah kekerasan seksual, men-support kebijakan pemerintah lokal, bekerja secara serius, menjamin keamanan dan keselamatan anak buah serta tidak pergi ke tempat-tempat terlarang.
Sementara MTF Commander RADM. Claudio Henrique Mello De Almeida, menghimbau kepada Satgas Maritim agar melaksanakan MIO (Maritime Interdiction Operation) di daerah AMO (Area Maritime Operations) secara optimal serta mewujudkan stabilitas dan keamanan perairan teritorial Lebanon.
Satu hari sebelumnya tepatnya pada hari Minggu (13/03/2016), KRI Bung Tomo-357 yang bertugas di Lebanon sebagai Peacekeeper mendapat tamu kehormatan Chief Air Operation UNIFIL (United Nations Interim Forces in Lebanon) Colonel Itaf Avola Filippo (Italia Air Force) beserta Chief Of J5 Colonel Borgia (Italia Army) dan Chief Of Force Provost Marshal UNIFIL LT. Colonel Francesco Maretto (Italia Carabinieri).
“Kunjungan ini selain menjalin silaturahmi yang sudah berjalan lama antara pihak Satgas Kontingen Garuda dengan Satgas Italia yang tergabung sebagai pasukan perdamaian di Lebanon, juga mengenal lebih dekat khususnya TNI AL dan berbagai potensi yang dimiliki Indonesia.
“Justru di sinilah peran vital dalam mengimplementasikan Naval Diplomacy yang akan berdampak strategis pada cara pandang bangsa lain terhadap Indonesia dari berbagai aspek melalui Soft Power Diplomacy,” lanjut Yayan.
Dengan melihat secara langsung kemampuan prajurit yang profesional dan militan, alutsista modern dengan kesiapan tempur yang tinggi serta lingkungan kerja yang tertata baik mencerminkan kemampuan sebuah negara dalam menyiapkan kemampuan militernya dan mengamankan kepentingan nasionalnya di berbagai belahan dunia.
Sambung Yayan, inilah pesan yang tersampaikan kepada dunia internasional tentang kemampuan militer Indonesia, ditambah lagi prestasi yang diraih selama bergabung dalam UNIFIL.
“Satgas Maritim TNI Konga XXVIII-H/UNIFIL KRI Bung Tomo-357 memiliki reputasi yang disegani antar unit Maritime Task Force (MTF) dari Jerman, Yunani, Bangladesh, Turki dan Brazil karena pencapaian operasi di lapangan yang menonjol, disiplin yang tinggi, kualitas latihan bersama yang membanggakan dan tidak mudah menyerah mengahadapi keganasan gelombang di Mediterania,” bebernya.
Yayan mengaku hal tersebut mendapat pengakuan dari Rear Admiral (RADM) Flavio Macedo Brasil sebelum serah terima dengan MTF Commander yang baru.
Dalam torehan itu, telah membuktikan KRI Bung Tomo-357 memiliki peran yang unik sebagai media berdiplomasi, sama halnya seperti negara-negara besar lainnya yang memiliki kekuatan Angkatan Laut modern. Kehadirannya ke berbagai arena selalu membawa pesan yang ingin disampaikan baik kepada sasaran tujuan maupun masyarakat internasional tentang kemampuan dan kedigdayaan dalam mengamankan kepentingan nasional.
Soft dan Hard Power Diplomacy
Masih kata Yayan, Naval Soft Power Diplomacy dilaksanakan melalui kerjasama latihan seperti yang lazim dilaksanakan oleh TNI AL dengan berbagai negara seperti Carat dengan US Navy, Sea Eagle dengan Singapura, Helang Laut dengan Brunai Darusalam, New Horizon dengan Australia maupun dengan sejumlah negara lain, baik dalam konteks Latihan bersama maupun patroli terkoordinasi (Corpat).
“Momentum tersebut tidak boleh dianggap remeh karena akan berdampak strategis dengan diperhitungkannya kemampuan militer kita oleh negara yang bersangkutan, seperti halnya saat pelaksanaan Multilateral Exercise Kakadu 2012 yang diikuti sejumlah kapal perang di kawasan Asia Pasifik dan observer dari sejumlah negara Eropa di Darwin, Australia,” ulas Yayan saat menceritakan pengalamannya sebagai Komandan KRI Frans Kaisiepo-368 yang mengikuti ajang tersebut.
Saat itu, KRI yang dikomandaninya menyabet predikat juara 1 dan 2 pada Harbour Phase dan penampilan yang mengagumkan dalam berbagai serial latihan manuver lapangan. Dari prestasi itu, akhirnya Australian Navy memberikan penghargaan “The Most Impresive Ship” kepada kapal perang kebanggan Indonesia tersebut.
Sedangkan, pada Naval Hard Power Diplomacy yang dilaksanakan oleh kekuatan Angkatan Laut suatu negara ialah untuk memberikan tekanan terhadap negara atau sasaran agar merubah kebijakannya sesuai dengan yang diharapkan.
“Saat ini Naval Hard Power Diplomacy dapat kita saksikan dalam konflik Laut China Selatan di mana US Navy dan negara lainnya yang memiliki kepentingan di kawasan tersebut menghadirkan kekuatan Angkatan Lautnya untuk membuktikan kredibilitas penguasaan kawasan sengketa,” paparnya.
Yayan menyimpulkan, kesamaan kedua metode itu baik Naval Hard Power Diplomacy maupun Naval Soft Power Diplomacy adalah untuk mempengaruhi cara pandang sasaran agar sesuai dengan yang diharapkan guna mengamankan kepentingan nasional suatu negara tanpa adanya konflik bersenjata. Perbedaan kedua metode tersebut adalah dalam implementasinya.
Soft Power Diplomacy dilaksanakan untuk menstimulasi sasaran mengakui kredibilitas dan kemampuan suatu negara dengan melihat kemampuan militernya yang tangguh, modern, profesional melalui kemitraan. Sedangkan Hard Power Diplomacy harus berdampak pada daya getar yang tinggi (deterrence effect) yang agresive dan mematikan sehingga sasaran mengurungkan niatnya untuk berperang sebelum perang tersebut dimulai.
Di akhir penjabaraanya, Yayan berharap kekuatan maritim Indonesia terutama Angkatan Lautnya ke depan menjadi semakin tangguh dan terdepan. “Semoga di masa mendatang TNI AL menjelma menjadi sebuah kekuatan yang walaupun bukan yang terbesar namun mematikan demi kembalinya kejayaan Indonesia, Jalesveva Jayamahe,” pungkasnya sembari mengutip pernyataan Kasal Laksamana TNI Ade Supandi dalam HUT TNI AL ke-70, 10 September 2015 lalu. (TAN)