Keterangan: Jabat Tangan sambil menyerahkan buku SOLL antara Dankrormar Mayjen TNI Mar Buyung Lalana dengan Menhub RI Ignasius Jonan. (Foto: Dispen Kormar)
Maritimnews, Jakarta - Menteri perhubungan Republik Indonesia (Menhub RI) Ignasius Jonan menerima kunjungan Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayjen TNI (Mar) Buyung Lalana, S.E., di ruang rapat Kemenhub Jl. Merdeka Barat 8 Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.
Kunjungan Dankormar kali ini bermaksud melaporkan perkembangan kegiatan Save Our Littoral Life (SOLL) yang telah dilaksanakan oleh Korps Marinir TNI AL. Dalam kunjungan tersebut, Dankormar didampingi Danpasmar-2 Brigjen TNI (Mar) Hasanudin dan beberapa Pejabat Teras Marinir yaitu Asops Dankormar Kolonel Marinir Edy Juardi, Asrena Dankormar Kolonel Marinir Endy Supardi, Asrena Danpasmar-2 Kolonel Marinir FJH Pardosi, dan Koorsmin Dankormar Letkol Marinir Nawawi.
Pada kesempatan tersebut, Dankormar menyerahkan buku Save Our Littoral Life yang telah disusun oleh Korps Marinir. Buku tersebut menggambarkan pelaksanaan kegiatan SOLL yang bertujuan menyelamatkan kehidupan pesisir. Kegiatan itu juga dihadiri oleh Laksamana TNI (Purn) Dr. Marsetio.
Dankormar menyampaikan terima kasih atas dukungan Kemenhub terhadap kegiatan SOLL dan Korps Marinir bertekad akan terus memelihara terumbu karang yang telah ditanam.“Korps Marinir dalam kesempatan mendatang juga akan melaksanakan konservasi terumbu karang di Kepulauan Seribu,” kata Dankormar.
Sementara itu, Menhub RI Ignasius Jonan begitu mengapresiasi kegiatan SOLL yang dilakukan oleh Korps Marinir TNI AL di sejumlah daerah itu. Mantan Dirut PT KAI itu berharap, agar Korps Marinir TNI AL tetap berinovasi dalam mendukung segala program pemerintah dalam bentuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
“Saya sangat bangga dengan apa yang telah dilakukan oleh Marinir. Ini menunjukan bahwa peran Marinir bukan hanya dalam perang tetapi juga dalam upaya pembangunan negara sesuai program pemerintah,” ujar Jonan.
Korps Baret Ungu itu tercatat sebagai pasukan TNI yang dikenal dekat dengan rakyat. Terutama ketika terjadinya Reformasi 1998. Kehadirannya di sejumlah daerah konflik telah mendapat respons yang baik dari masyarakat. (TAN)