Keterangan Foto: Museum Nasional Tiongkok - Simbol kejayaan ekonomi maritim Tiongkok berabad-abad laluMaritmnews, Shanghai – Dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G-20 di Shanghai, Tiongkok, 26-27 Februari 2016, Tiongkok mulai mengumumkan pembangunan ekonominya dengan beberapa sektor unggulan. Hal tersebut termasuk dalam rangka menggaungkan Jalur Sutera Maritim Tiongkok yang telah dipublikasikan sejak tahun 2013.
Dalam kesempatan itu, Tiongkok mengumumkan 60 miliar dolar AS untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur yang awal bulan ini bergerak untuk menahan tekanan transisi ekonomi. Bank sentral Tiongkok juga menjaga pasokan kredit cukup dan lingkungan suku bunga rendah.
Tiongkok juga diharapkan mampu menawarkan lebih banyak petunjuk tentang pergerakan yuan pada pertemuan G-20 ini. Para ekonom juga mengharapkan pada sesi politik bulan Maret ini untuk mampu memperbaiki bottom line pertumbuhan Tiongkok sebesar 6,5 persen guna menjaga kerja yang sehat.
Data industri menunjukkan bahwa pada tahun 2011-2012, Tiongkok telah memproduksi semen sebanyak yang AS lakukan selama abad ke-20 secara keseluruhan. Banyak perusahaan yang dililit utang di Tiongkok telah hengkang dari bisnis dan sekarang adalah perusahaan buruk yang tidak punya tempat untuk menjual produk mereka.
Kelebihan kapasitas industri, khususnya di sektor baja, semen, dan batu bara serta beberapa infrastruktur maritim menjadi daya dobrak Tiongkok memasuki periode 2016 ini. Ini saatnya Tiongkok dapat melepaskan sinyal segar untuk pasar dengan menjanjikan stabilitas ekonomi dan menjelaskan apa yang akan dilakukan selama lima tahun ke depan dalam Rencana lima tahun ke-13 Tiongkok.
Menkeu Bambang Brodjonegoro bertemu dengan Australian Treasurer Scott Morrison
Tidak ketinggalan Indonesia yang saat ini turut menggaungkan visi kemaritiman menyambut baik sosialisasi tersebut. Dalam kesempatan itu, Menkeu Bambang Brodjonegoro juga bertemu dengan Australian Treasurer Scott Morrison di sela-sela itu guna membahas kerja sama ekonomi yang lebih intensif di kedua negara.
Kedua Menteri saling bertukar pengalaman mengenai harga komoditas dan reformasi perpajakan. Keduanya juga berkomitmen untuk mengoptimalkan peran Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). (AN)