Ilustrasi Foto: Nelayan Indonesia terus mengalami kesulitan hidup (kukar.go.id)
Maritimnews, Jakarta – Memasuki paruh waktu tahun 2016, Kemenko Maritim dan Sumber Daya yang dipimpin oleh Rizal Ramli akan memfokuskan salah satu perencanaan programnya pada kesejahteraan nelayan. Hal itu disampaikan saat mengawali acara Sosialisasi Program Kemenko Maritim dan SD di gedung BPPT, Jakarta (18/2/16).
Mantan aktivis ITB itu tak kuasa melihat nasib nelayan kita di negeri bahari nan kaya ini menderita berbagai macam persoalan hidup. Memang sungguh ironis, maka dari itu Rizal berjanji dengan segenap jajarannya akan bahu-membahu melalui berbagai programnya untuk mensejahterakan nelayan.
Tentunya bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan yang juga dibawah koordinasi Kemenko Maritim dan SD, Rizal memaparkan beberapa target dalam rangka meningkatkan taraf hidup nelayan, salah satunya adalah dengan membangun kapal ikan untuk nelayan.
“Pemerintah akan membangun 3500 kapal ikan, yang nantinya melalui koperasi nelayan akan disalurkan ke para nelayan,” ujarnya dengan lantang.
Hal itu didasari selain untuk menghidupkan industri maritim juga untuk melengkapi fasilitas nelayan. Saat ini beberapa kapal nelayan dianggap tidak layak layar karena kondisi kapal dan ekstremnya cuaca di laut beberapa tahun terakhir.“Negara tetangga kita kaya dan industri maritimnya hidup karena ikan kita, lah kok nelayan kita malah miskin semua, bagaimana ini,” keluhnya.
Selanjutnya, Rizal mengutarakan saat ini di Indonesia sedang terjadi pelimpahan ikan akibat beberapa kondisi salah satunya badai El Nino yang melalui proses penelitian telah meningkatkan populasi ikan di laut Indonesia. Namun, masalah lain yang justru mehinggapi sektor perikanan ialah harga ikan menjadi semakin murah.
“Ini masalah baru. Ikan banyak tetapi harga ikan turun. Harusnya dengan kondisi demikian kita harus menggalakan budaya makan ikan dan meningkatkan kuantitas ekspor,” tandas Mantan Menko Ekuin di era Pemerintahan Presiden Gus Dur tersebut.
Menyikapi hal itu, maka pemerintah mengupayakan untuk membangun Cool Storage (Gudang Pendingin) di beberapa titik Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP). Karena membutuhkan teknologi tinggi, Rizal pun membuka investasi asing dalam urusan pemenuhan Cool Storage itu.
“Industri perikanan harus kita yang pegang, tetapi untuk industri turunanannya seperti pemenuhan Cool Storage kita membutuhkan investor asing,” ulasnya.
Keterbutuhan Cool Storage itu dianggap perlu mengingat melimpahnya jumlah ikan namun tidak bertahan lama karena mengalami kebusukan. Hal itu lah yang membuat harga ikan semakin turun yang berdampak pada miskinnya nelayan.
Kemudian, pemerintah juga akan memenuhi asuransi bagi para pelaut termasuk nelayan, agar pekerjaan yang berisiko tinggi itu tidak banyak ditinggali oleh masyarakat dan sebaliknya justru semakin diminati. “Asuransi itu nanti akan menjamin ahli waris dan keluarganya, jadi untuk para pelaut jangan khawatir,” imbuhnya.
Untuk program yang terakhir terkait peningkatan kesejahteraan nelayan, Rizal mengemukakan Kampung Nelayan Modern, yang saat ini pilot project-nya ada di Indramayu.
“Ubah mindset kalau perkampungan nelayan itu identik dengan kumuh dan bau. Ganti dengan perkampungan yang bersih dan airnya memadai serta banyak fasilitas yang dapat digunakan. Kita ada pilot project-nya di Indramayu yang mana jika ini berhasil akan diikuti di daerah-daerah lainnya,” pungkasnya. (AN)