Program Tol Laut, Pelabuhan Pontianak sebagai Stabilisator Harga bagi Natuna
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menginginkan supply barang ke wilayah pulau terluar Indonesia agar ditinjau kembali dengan mengacu pada program Tol Laut.
Ket Foto: Menhub Budi didampingi Dirut Pelindo II/IPC saat mengunjungi pelabuhan Pontianak terkait program Tol Laut, Jumat (2/9).MNOL, Pontianak - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menginginkan supply barang ke wilayah pulau terluar Indonesia agar ditinjau kembali dengan mengacu pada program Tol Laut. Tujuan pembangunan tol laut antara lain menghilangkan disparitas harga barang/logistik antar wilayah barat dengan Timur, maupun ke wilayah perbatasan, terpencil, terdalam, dan terluar Indonesia.
"Disparitas harga barang di kota-kota kecil sangat mengkhawatirkan, mahal sekali. Untuk Itu kita akan lakukan reroute tol laut. Misalnya Kepulauan Natuna, yang tadinya dapat supply barang dari Jakarta, kita ubah dari Pelabuhan Pontianak," jelas Menhub Budi saat melakukan tinjauan ke Pelabuhan Pontianak, Kalimantan Barat didampingi Dirut PT Pelindo II Elvyn G Massaya, Jumat (2/9).
Dalam kunjungannya ke Pelabuhan Pontianak, Menhub mengatakan, keberadaan pelabuhan ini sangat penting dalam upaya mendukung jalur logistik di wilayah barat dan perbatasan Indonesia. Guna mewujudkan hal itu, adalah dengan mengoptimalkan fungsi Pelabuhan Pontianak untuk menstabilkan harga barang di pulau terluar Indonesia seperti di Natuna.
Menhub berharap, dengan adanya supply barang dari Pelabuhan Pontianak ke Natuna dapat meningkatkan produktivitas barang, serta menstabilkan harga barang.
"Kalau selama ini barang ke Natuna datang setiap 21 hari sekali sebanyak 250 ton, kedepan akan menjadi lebih pendek yaitu 10 hari. Meningkat dua kali lipat. Tol laut akan menjadi lebih produktif, dapat membangkitkan ekonomi masyarakat di Natuna maupun Pontianak sendiri," ujarnya.
Sementara itu, menyinggung pelabuhan di kawasan Pantai Kijing, Kabupaten Mempawah yang bakal dibangun sebagai pelabuhan internasional di Kalimantan Barat, Menhub mengungkapkan bahwa pelabuhan tersebut bisa dijadikan hub internasional port.
"Biasanya barang dari luar harus ke Jakarta dulu, kalau disini sudah jadi hub, direct call dari luar negeri bisa langsung ke pelabuhan Kijing," jelas Menhub.
Di tempat terpisah, Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Ir. A. Tonny Budiono, MM menyatakan bahwa Ditjen Hubla siap mendukung program kerja Kementerian Perhubungan terkait perwujudan tol laut dengan mempersiapkan sarana dan prasarananya.
Tonny mengungkapkan yang melayani jalur Pelabuhan Pontianak ke Natuna adalah kapal-kapal perintis dari PT Pelni, dan pemerintah akan memberikan subsidinya. "Kami mendukung kebijakan yang dikeluarkan oleh Menhub guna memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat pengguna jasa transportasi laut khususnya di wilayah Pontianak dan sekitarnya," pungkasnya.(Bayu/MN)